Kekaguman dari masa lalu - JAMAL PASSALOWONGI -->

Kekaguman dari masa lalu


Saat kuliah di pascasarjana, seorang profesor senior bahkan sangat senior menjelaskan materinya dengan berbekal secarik kertas kumal yang sudah terlipat-lipat dan kelihatan dari warna kertas dan tintanya yang pudar dapat dipastikan sudah sangat tua, dengan tenang beliau (maha guru yang sangat saya hormati) dan menjadi salah satu inspirasi kemudian menjelaskan panjang lebar tentang dunia bahasa seluas samudra.
Tentu akan sulit menjelaskan kembali kembali materi itu pada tulisan ini, yang menjadi fokus adalah profesor-profesor tua kita ini, mereka memiliki model pendidikan yang sungguh berbeda dengan profesor yang ada saat ini, dulu ketika zamannya profesor tua kita ini kuliah sampai mendapatkan gelar tertingginya dalam dunia pendidikan, sentuhan modernitas masih jarang mereka dapatkan, on line, lcd, layar sentuh, tablet, blackberry, e-book, dan seterusnya merupakan produk modernitas yang tentunya belum ada saat mereka kuliah dan menimba ilmu di perguruan tinggi, masa sulit mereka tentu dapat kita banyangkan mencari literatur, referensi dalam atau luar negeri, membuat makalah dengan tulisan tangan atau mesin ketik manual, sungguh sesuatu yang tidak dapat dibayangkan oleh anak-anak zaman ini yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi.
Mereka, profesor tua kita adalah pelajar dari zaman yang berbeda dengan kita saat ini, mereka adalah pelajar yang langsung belajar pada sumber-sumber asli, membaca buku sebanyak-banyaknya, melihat dan mengamati langsung. Peserta didik zaman sekarang tinggal pilih, cari di internet, mengunduh e-book, atau lembaran yang dibutuhkan saja tanpa harus mencari ke perpustakaan, cukup bermodalkan jaringan on line, selesailah banyak masalah.
Dalam benak kita, pernahkah ada terbetik bahwa proses modernisasi dalam satu sisi, telah mengubah masyarakatnya larut dengan kecepatan yang luar biasa, yang akhirnya berujung pada proses yang sifatnya instant (siap saji). Semua dengan mudah tanpa bersusah payah. Pun dalam belajar. Siswa saat ini tidak perlu membaca satu buku untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, cukup on line, dapat bukunya pilah bagian mana yang diinginkan, kemudian lakukan C2P (copy-paste-print), selesailah tugasnya. Otak kita berubah menjadi mesin dengan data terpenggal.
Pengalaman menarik ini mungkin pernah dialami guru bahasa yang memberikan tugas pada siswanya untuk membuat resensi buku baik fiksi maupun nonfiksi, siswa akan mengumpulkan resensi tepat waktu, tetapi kebanyakan resensi itu berasal dari resensi sudah jadi, milik orang lain yang mereka cari lewat googling di internet. Bangga siswa kita dapat berinternet, tetapi kecewa karena mereka hanya mengambil milik orang lain, memang suatu ironi dalam dunia pendidikan kita.
Dunia memang telah berputar dengan cepat, tetapi dari putaran ini tidak semuanya harus kita tinggalkan, masih ada pesan atau model belajar dari masa lalu yang harus tetap menjadi pelajaran untuk kita di zaman ini. Salah satu yang hilang dan harus ditumbuhkan adalah belajar dari sumber-sumber asli, tidak salah mengunduh buku dari internet, akan tetapi akan lebih baik bila buku itu ada ditangan, dan dibaca sampai pada bagian akhir. Membaca buku berarti membuka jendela ilmu. Dan para profesor tua kita telah membuktikannya

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Kekaguman dari masa lalu"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel